foto1 foto2 foto3 foto4 foto5


Pelayanan Iman & Doa
www.pidmedia.net
PID

Pelayanan Kristen (Christian Ministry Church) Badan Hukum : Departemen Agama RI no.156 Tahun 1990, Motto PID adalah MELAYANI YANG BELUM TERLAYANI, Donation; Bank Central Asia (BCA), Account No : 3312172299,Beneficiary name : Christi Yana Rahayu atau Pudjianto +++ Swift Code: CENAIDJA ;Beneficiary Bank Name: Bank Mandiri, Beneficiary Branch: KCP Batu,Beneficiary Account No: 144-00-1556515-0, Beneficiary name: Pudjianto/Monika Maria Paramita +++ Swift Code: BMRIIDJA +++ +++

Visitors Counter

345449
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
461
982
3610
338204
7544
11517
345449

Your IP: 52.91.245.237
Server Time: 2018-12-12 18:32:40

Radio Streaming

MEREKA TETAP SETIA

        Dalam pelayanan kunjungan Pdt. Pudjianto kepada sekelompok orang percaya di sebuah desa terpencil di daerah Jawa Tengah seperti mengingatkan kembali bagaimana Tuhan berkarya secara luar biasa dalam pelayanan Pdt. Pudjianto. Betapa tidak desa yang dulunya tidak ada seorangpun yang percaya kepada Kristus, tapi kini sudah berdiri gereja yang memuliakan nama Tuhan. Makanya ketika saudara-saudara yang dulunya berlatar belakang non Kristen yang terletak di desa yang bernama Desa Ngandong di pinggiran kota Pati itu tahu akan kedatangan Pdt. Pudjianto mereka sangat antusias menyambut kehadiran Pdt. Pudjianto.

        Memang bisa dimaklumi semangat mereka menyambut Pdt. Pudjianto karena bagaimanapun mereka menganggap bahwa Pdt. Pudjianto adalah sosok hamba Tuhan yang telah menjadi pembimbing mereka ketika mereka menyatakan diri hingga mereka menjadi orang percaya. Dalam hal ini Pdt. Pudjianto lah yang telah bersedia dan mau hidup di daerah yang ketika itu masih belum terjamah pembangunan. Saat itu masyarakat di desa Ngandong hidup dalam pra sejahtera. Dan ketika pertama kali berada di Desa Ngandong tersebut belum ada tempat ibadah, apalagi rumah untuk hamba Tuhan.

Dalam sejarahnya kekristenan di desa Ngandong itu dimulai dari seseorang bernama Parto Parmin adalah pedagang tembakau. Untuk mememenuhi kebutuhan tembakau, Parto Parmin sering membeli tembakau dari kota Kudus untuk dijual di desanya. Ia memiliki toko langganannya di sebuah warung di pasar Kudus. Rupanya hubungan antara Parto Parmin dan pemilik warung tersebut cukup dekat. Pemilik warung punya Kitab Suci, tapi pemilik warung itu sendiri tidak tahu bahasanya, maklum karena Kitab Suci itu rupanya dalam bahasa Jawa. Parto Parmin sendiri ingin melihat Kitab Suci tersebut dan puji Tuhan akhirnya kitab tersebut diberikan kepada Parto Parmin. Betapa senangnya Parto Parmin menerima Kitab Suci tersebut, dan ia membalik-balik halaman kitab tersebut.

        Akhirnya Kitab Suci itu dibawa pulang dan dibacanya di rumah. Betapa tersentuh hati Parto Parmin ketika membacanya. Saking senangnya dengan isi Kitab Suci tersebut sampai-sampai Parto Parmin selalu membacakannya kepada setiap tetangganya yang sering bertandang di toko tembakaunya. Bukan sampai di situ rupanya isi Kitab Suci itu tetangganya juga tertarik. Sehingga bertambah hari bertambah banyak orang yang penasaran untuk mengetahui isi Kitab Suci tersebut. Itulah awal dari munculnya kekristenan di Desa Ngandong tersebut.

        Bermula dari peristiwa tersebut akhirnya seorang hamba Tuhan bernama Pudjianto terpanggil untuk membimbing orang-orang yang tertarik kepada isi Kitab Suci tersebut dan tentu saja menolong mereka yang baru menyatakan diri sebagai orang percaya kepada Kristus. Selama 16 Tahun Pudjianto berada di tengah-tengah mereka. Kendati daerah Ngandong termasuk daerah yang sulit dari sisi ekonomi dan medan yang jauh dari jalan raya, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat Pudjianto untuk tetap tinggal berada di desa tersebut untuk melakukan pembimbingan dan pembinaan terhadap orang-orang yang haus akan firman Tuhan itu. Dalam perkembangan berikutnya di Desa Ngandong tersebut akhirnya berdiri tempat ibadah dan juga pastori untuk tempat tinggal pendeta serta fasilitas-fasilitas lainnya berhubungan dengan pembinaan gereja.

 

         Kini setelah 18 tahun mereka ditinggal ditinggal oleh Pdt. Pudjianto untuk melayani di Malang, Jawa Timur, ternyata mereka orang-orang percaya di Desa Ngandong tersebut masih tetap setia kepada Tuhan. Kehadiran Pdt. Pudjianto dalam pertemuan malam itu memang dihadiri oleh seluruh jemaat di mana mereka secara kelembagaan  tergabung ke dalam induk organisasi Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI). Dalam pertemuan tersebut mereka menunjukkan rasa rindunya kepada pdt. Pudjianto yang telah memberi bimbingan selama masa pertumbuhan rohani mereka. Terbukti ketika mereka mendengar kabar kalau Pdt. Pudjianto akan berkunjung, mereka sangat antusias untuk berkumpul.

        Bagi Pdt. Pudjianto sendiri jemaat di Ngandong ini sangat membanggakan. Betapa tidak dari desa yang dulunya cukup terpencil itu tapi melahirkan banyak orang yang sangat berguna baik bagi pelayanan, maupun bagi masyarakat. Terhitung ada empat orang yang telah menjadi  hamba Tuhan dan kini sudah menggembalakan jemaat yang bernaung di bawah GKMI. Ada yang menjadi perawat, bidan, dan tidak sedikit dari anak-anak mereka sudah banyak yang menjadi sarjana. Tentu tidak pernah terbayangkan, Tuhan memimipin sampai sedemikian.

        Sudah 18 tahun ditinggalkan oleh Pdt Pudjianto, namun mereka teap setia kepada Tuhan. Secara manusiawi sulit untuk dipercaya kalau mereka bisa membiayai anak-anak mereka untuk kuliah. Namun, pada kenyataannya kuasa Tuhan tidak bisa dibatasi, untuk menolong mereka setelah mereka menjadi orang percaya. Hanya Tuhan saja kiranya yang dimuliakan di atas segalanya.

        

 


Copyright © 2018 PID MEDIA Rights Reserved.