KESAKSIAN PENDENGAR - KARENA MURAH HATI DILIMPAHI KEMURAHAN

Pak Satim, sebut saja demikian, seorang bapak yang memiliki dua putri yang masih kecil. Sudah lima tahun berumah tangga hanya bermodalkan tekad, sampai saat itu hidupnya mengontrak rumah, dari satu rumah ke rumah yang lain. Pak Satim sudah bekerja keras, namun ternyata belum diberi kesempatan un-tuk memiliki sebuah rumah walaupun hanya kecil saja. Dan bulan itu adalah bulan terakhir batas kontrak rumahnya. Ia bingung, karena memang tidak ada uang sama sekali untuk memperpanjang. Tabungan yang sedianya untuk memperpanjang kontrak, malah sudah terpakai ketika dua putrinya harus masuk ru-mah sakit. Sudah beberapa malam berdoa dan berdoa bersama sang istri. Waktu itu Pak Satim ijin kepada istrinya untuk jalan-jalan ke pasar, hanya untuk menyegarkan pikirannya saja. Tanpa terasa kakinya su-dah lelah beranjak menuju pulang, dan kebetulan sudah waktunya makan siang. Dada pak Satim tersen-tak, ketika tangannya disentuh oleh seseorang, “Pak, bisakah bapak menolong saya untuk bisa membeli nasi, guna makan siang saya?” Demikian kata seorang kuli panggul di pasar tersebut. “Sejak pagi saya belum ada yang menyuruh saya membawakan barang-barang pak”.
Bapak Satim memandangi laki-laki yang lusuh itu, dengan pundak yang hitam karena memikul beban. Tiba-tiba dadanya runtuh oleh belas kasihan. “Orang ini sampai sesiang ini belum bisa makan, terus bagaimana dengan keluarganya nanti?” Demikian suara batinnya. Sementara di kantongnya hanya ada 10 ribu, sedianya hanya akan memberi 5 ribu saja, namun tidak mungkin orang itu diminta kembalian. Akhirnya sepuluh ribu itu sudah berpindah tangan. Kuli panggul menerima uang itu langsung wajahnya cerah. Berkali-kali mengucapkan terima kasih. Dan mata pak Satim mengikuti langkah cepat orang terse-but, dan terlihat dari jauh kuli panggil itu berada di warung sederhana di pinggir jalan. Melihat kuli panggul itu benar-benar lapar tersebut dada pak Satim sesak oleh karena haru. Namun, entah dari mana datangnya hatinya dipenuhi damai sejahtera dan sukacita.
Besuk pagi dirinya dan keluarganya harus segera mengeluarkan barang-barangnya, karena pengkontrak lain sudah menunggu untuk segera masuk. Pak Satim dan istrinya mengucap syukur, bahwa malam ini masih bisa tidur tenang dengan kedua putrinya. Besuk biarlah Tuhan yang memikirkan keluarganya. Ketika pak Satim dan istrinya mau memasuki peraduan, ia terkejut karena pintu rumah kontrakannya diketok orang. Ketika membuka pintu dadanya berdesir, karena dua pasangan muda tersenyum padanya dan dari sorot matanya meminta untuk diijinkan masuk. Ternyata keperluan suami istri yang masih muda itu menawarkan kepada dirinya untuk menjaga rumah pasangan muda ini, karena pasangan muda ini akan ada keperluan ke luar negeri dalam jangka waktu yang lama. Bahkan setiap bulan ia akan diberi bayaran. Dada pak Satim melonjak, demikian telinganya mendengar istrinya terpekik kecil dan tersedu. Ia tahu istrinya sangat bersyukur kepada Tuhan dengan penuh haru, tidak sampai besuk pagi, malam mau tidur Tuhan sudah mengulurkan tanganNya.
Rumah yang harus ditempati sangat bagus, tidak pernah terbayangkan bisa menempati rumah sebagus itu. Ada kebun yang ditanami beberapa pohon, dan boleh dipetik, di halaman yang luas itu. Boleh dimiliki selama tinggal di situ. Tugasnya menjaga dan merawat tumah tersebut. Pak Satim memandang ke langit biru, di sana bersamayam Yesus Raja di atas Raja, yang memperhatikan orang yang percaya kepadaNya. Karena ia murah hati maka ia menikmati kemurahanNya.
Sabda Tuhan: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pen-dengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yesaya 59:1)