KESAKSIAN PENDENGAR - GEREJA ITU TIDAK JADI ROBOH
Di sebuah desa kecil bernama Mager Sari, di pinggiran Kabupaten Temanggung, berdiri sebuah ge-reja sederhana. Bangunannya tidak besar, tetapi menjadi tempat berharga bagi jemaat yang setia beribadah di sana. Namun waktu dan keadaan mulai menggerogoti bangunan itu. Bagian kanan gedung perlahan amblas, semakin hari semakin miring. Retakan mulai tampak memanjang di dinding, dan beberapa gen-teng jatuh satu per satu. Keadaan ini tentu membahayakan bagi jemaat dan siapapun yang ada di sekitar Gedung gereja tersebut.
Kekhawatiran sangat dirasakan oleh gembala jemaat dan seluruh anggota gereja. Sebenarnya Masyarakat sekitar punya kepedulian juga di mana mereka menyarank-an agar Gedung gereja itu segera diperbaiki. Apalagi bagi jemaat sendiri di mana mereka punya semangat supaya memperbaiki Gedung tersebut.
Tetapi dalam kenyataan renovasi bukanlah hal mudah. Kalau dilihat dari persembahan jemaat setiap iba-dah Minggu tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah. Uang itu hanya cukup dipakai untuk kebutuhan pela-yanan mingguan dan sedikit honor bagi pendeta yang melayani. Sehingga secara akal untuk memperbaiki Gedung yang hamper roboh itu, rasanya tidak mungkin.
Pergumulan itu begitu berat. Namun di tengah keterbatasan, sang pendeta mengambil langkah iman. Ia mengajak jemaat untuk berdoa. “Mari kita minta kepada Tuhan Yesus, Pemilik gereja ini, supaya Dia sendiri yang membangun rumah-Nya,” demikian ajakannya.
Sejak saat itu, suasana di gereja berubah. Langkah iman itu rupanya memberikan semangat kepada jemaat untuk datang bergantian ke gereja untuk berdoa dengan penuh semangat. Entah itu pagi, siang, bahkan pada malam hari, mereka berlutut. Dengan hati yang sama mereka berseru, “Tuhan, jangan biar-kan rumah-Mu roboh.”
Sementara itu, usaha lainnya supaya tidak membahayakan maka mereka membeli bambu-bambu besar disandarkan untuk menopang bangunan yang terus miring. Walaupun retakan Gedung gereja itu tetap sa-ja menjalar ke manamana. Secara manusia, tinggal menunggu waktu saja, Gedung gereja itu akan roboh dan tidak ada cara lain, selain terus berdoa, dan semaksimal mungkin menyangga Gedung tersebut supa-ya tidak cepat roboh.
Suatu pagi, sebuah mobil terlihat berulang kali melintas di jalan depan rumah pendeta. Kendaraan itu seperti mondar-mondir. Karena merasa ada yang tidak biasa, pak pendeta segera keluar dan berdiri di tepi jalan untuk memastikan, ada apa gerangan. Dan tak lama kemudian mobil yang mondar-mandir tadi ber-henti.
“Pak, boleh bertanya? Apakah itu gedung gereja?” Tanya seorang pria dari dalam mobil itu memastikan Gedung yang sedang disangga bambu tersebut.
“Betul, Pak,” jawab pendeta.
Wajah pria dari mobil itu langsung berseri. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Pak Han. Dengan suara yang penuh kesungguhan, ia menceritakan bahwa beberapa waktu terakhir ia bermimpi berulang kali. Dalam mimpinya, ia melihat sebuah gereja di desa yang asing baginya, dan ia merasa Tuhan memerinta-hkannya untuk datang dan segera menolong.
Awalnya laki-laki itu ragu. Ia tidak mengenal desa itu. Namun mimpi itu terus datang, bahkan berulang kali, sampai ia tidak bisa mengabaikannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari tempat tersebut. Ia mencocokkan apa yang dilihat dalam mimpi dengan keadaan nyata—dan semuanya cocok.
Tanpa banyak bicara, Pak Han menyerahkan persembahan yang jumlahnya cukup untuk membongkar dan membangun kembali seluruh gedung gereja yang miring itu.
Ketika kabar itu disampaikan kepada jemaat, mereka terdiam. Seakan tidak percaya. Lalu tiba-tiba sua-sana berubah—tangis pecah, pujian dinaikkan. Mereka menyadari, Tuhan benar-benar mendengar setiap doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh.
Yang lebih mengherankan, setelah menyerahkan bantuannya, Pak Han tidak pernah terlihat lagi. Ia da-tang, melakukan apa yang Tuhan perintahkan, lalu pergi. Bahkan saat peresmian gedung gereja yang ba-ru, ia tidak dapat dihubungi. Bagi jemaat, kehadirannya seperti utusan Tuhan yang datang tepat pada waktunya.
Gedung itu tidak jadi roboh. Tuhan sendiri yang menopang dan membangunnya kembali. (Pdt. Andreas- Temanggung)
DIA YANG KITA PERCAYA TIDAK PERNAH TERLAMBAT. IA TAHU APA YANG PALING KITA BUTUHKAN, DAN IA MENYEDIAKAN PADA WAKTU-NYA.
