KESAKSIAN PENDENGAR - TUHAN PELINDUNG ORANG MISKIN

Ibu Rat demikian biasa tokoh yang akan menceritakan kisah hidupnya biasa dipanggil. Situasinya, ketika ia ditinggal meninggal oleh suamin-ya tiga anaknya masih kecil. Ia harus menghidupi ketiga anaknya tanpa memiliki pekerjaan yang tetap. Yang bisa ia lakukan adalah bu-ruh tani, karena itulah yang bisa dilakukan di kampungnya. Ketika musim tanam, ia akan turun menjadi buruh menanam, kalau panen, ia akan ikut menjadi buruh memanen. Demikian ia kerjakan dengan penuh ketekunan. Dan pekerjaan yang dilakukan dengan tekun itu membuat tenaganya laku jual. Kapan saja kalau orang butuh tenaga pasti dia yang dihubungi terlebih dahulu. Ia pantang pindah kalau pekerjaan yang pernah disanggupi belum selesai. Demikianlah ia menjaga diri supaya biosa dipercaya banyak orang.
Kadang-kadang kalau merasakan badannya lelah, ia hanya memandang ke langit, “Yesus beri kekuatan padaku, biar anak-anak saya makan dan bisa bersekolah”. Kalau sudah demikian entah bagaimana rasanya badannya seperti dialiri kekuatan dan rasa cape itu pelan-pelan sudah tidak terasa. Musim panen tiba, ibu Rat sudah pasti diminta tetangganya untuk membantu . Pekerjaannya banyak macam, membawa padi ke mobil, kadang-kadang harus bekerja keras merontokkan padi dari tangkainya. Semuanya dik-erjakan. Lelah memang, namun hasilnya lumayan banyak.
Ketika itu ia akan menyelep gabah hasil jerih payahnya. Gabah yang akan diselep memang cukup banyak untuk ukuran ibu Rat, ada 75 kg, karena di rumahnya akan ada syukuran, dengan mengundang para tetangga dan sesama Kristen untuk berkumpul. Antrian penggilingan padi demikian panjang, banyak orang yang mau menyelepkan gabahnya. Saat tiba gilirannya selep ternyata sudah tutup. Terpaksa gabah yang akan diselep itu menginap di penggilingan. Dan tidak mungkin membawanya pulang.
Ternyata malam itu pabrik selep dibobol maling, seluruh gabah yang ada di selep diangkut maling semua. Berita bahwa selep dibobol maling membuat ibu Rat lemas. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Se-luruh gabah yang antri untuk diselep semua lenyap. Ibu Rat memeluk ketiga anaknya diajak berdoa, “Engkau tahu kami orang tidak punya, gabah itu hasil lelah kami dengan buruh Tuhan. Jika memang harus hilang, ajar kami bisa mengucap syukur”. Kira-kira demikian doanya.
Ketiga anaknya meneteskan air mata, mendengar doa ibunya. Ibu Rat berjalan menuju selep, di sana su-dah banyak orang dan mereka menampakkan wajah yang susah. Ibu Rat sudah mempersiapkan hati untuk tidak kecewa sejak berangkat dari rumah. Namun, betapa terkejutnya ketika ia mendekati selep, ternyata gabah miliknya itu masih ada di sana. Rasanya ia tidak percaya terhadap pemandangan itu, dan benar gabah itu masih ada di tempatnya dan tidak tersentuh pencuri. Ibu Rat langsung berlutut di depan karung gabahnya, mengucap syukur. Tuhan benar, Tuhan yang melindungi orang miskin. (Ibu Rat, Te-manggung)