MENANG ATAS COBAAN KARENA DOA
(Sebuah Kesaksian tentang Kuasa Doa dan Pengampunan)
Pagi itu hati ibu Rani—sebut saja demikian—terguncang hebat. Ketika ia membuka pintu rumahnya, pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang membuat dadanya berdesir. Di teras rumah, tergeletak bunga tiga macam yang masih segar, terbungkus daun pisang. Di sekitarnya, beras berwarna kuning tersebar begitu saja. Tidak ada jejak siapa yang me-letakkannya. Tidak ada suara. Tidak ada pesan. Hanya benda-benda itu, terdiam, namun seakan berbicara keras di hatinya. Pertanyaan bergulung-gulung di benaknya. Siapa yang menaruh bunga tiga macam—kembang telon—itu? Untuk apa beras kuning itu disebarkan di teras rumahnya? Mengapa semua ini terjadi di rumahnya, di pagi yang seharusnya biasa saja? Tidak ada jawaban, tetapi firasat di hat-inya berkata lain. Ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi da-lam rumah tangganya.
Hari itu ibu Rani tidak tenang. Ia mencoba mengabaikannya, namun bayangan bunga dan beras kuning itu terus menghantui pikirannya. Anehnya, hal yang sama terjadi keesokan harinya. Bahkan sampai tiga hari berturut-turut, bunga tiga macam dan beras kuning kembali diletakkan di tempat yang sama. Setiap pagi, pemandangan itu menyambutnya. Setiap pagi pula, hatinya semakin tertekan. Ibu Rani sendiri tidak tahu mengapa ia mengaitkan kejadian itu dengan rumah tangganya.
Namun firasat itu begitu kuat. Seakan ada ancaman yang tidak terlihat. Sebuah kegoncangan yang akan datang. Akibatnya, ia mulai kehilangan damai sejahtera. Saat beribadah, pikirannya melayang. Saat berdoa, hatinya tidak lagi fokus. Bahkan perlahan-lahan, semangat doanya mengendur. Ketakutan mulai mengambil alih.
Dalam kegelisahan itu, pikirannya tertuju kepada suaminya. Sudah hampir sebulan suaminya tidak pu-lang. Biasanya seminggu sekali, paling lama dua minggu. Namun kali ini berbeda. Nomor ponselnya sulit dihubungi, bahkan sering tidak aktif. Dada ibu Rani berdesir. Jangan-jangan suaminya selingkuh. Jika itu terjadi, ia tidak sanggup membayangkan bagaimana masa depan rumah tangganya, bagaimana nasib kedua anaknya.
Hari-hari dilalui dengan air mata dan kecemasan. Hingga suatu hari, suaminya akhirnya pulang. Ibu Rani merasa lega, seolah beban besar terangkat. Ia menceritakan tentang bunga dan beras kuning yang terus muncul di teras rumah. Suaminya tampak kaget. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Tanpa sengaja, ibu Rani membaca pesan singkat di ponsel suaminya. Kata-kata mesra dari seorang wanita lain. Namanya tertera jelas. Seketika dunia terasa runtuh. Tanpa berpikir panjang, ia membangunkan suaminya dan mel-ontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Siapakah wanita itu? Mengapa sering mengirim pesan? Mengapa no-mor ponsel diganti tanpa memberitahu?
Dengan suara setengah menjerit, puluhan pertanyaan keluar dari mulutnya. Na-mun suaminya tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya memandang sekilas, mengambil ponsel itu, lalu memasukkannya ke saku. Tanpa sepatah kata, ia keluar dari rumah dan menghilang dalam gelap malam. Ibu Rani berdiri terpaku. Kakinya lemas. Ia jatuh terduduk di tempat tidur dan menangis pilu. Hatinya tersayat. Semua ketakutan yang selama ini ia pendam, kini seolah menjadi kenyataan. Dalam keputusasaan itu, tiba-tiba ia teringat seorang pendeta yang sering ia dengar berkhotbah di radio. Khotbah-khotbahnya selalu menghibur dan menguatkan. Dengan tangan gemetar, ibu Rani mencari nomor telepon pendeta itu. Tern-yata masih tersimpan. Tanpa mempedulikan apakah pendeta itu sibuk atau tidak, ia menelepon. Panggilan tersambung. Ibu Rani mencurahkan seluruh isi hatinya—air mata, ketakutan, kekecewaan, dan rasa sakit yang menekan dadanya.
Pendeta itu mendengarkan dengan penuh empati. Ia lalu menyarankan ibu Rani untuk menyediakan wak-tu khusus bagi Tuhan dalam doa. Bahkan melalui telepon, pendeta itu mendoakannya. Salah satu doa yang sangat diingat ibu Rani adalah ketika pendeta itu berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus, kami ikat kuasa kegelapan yang ada di bunga dan beras kuning yang disebarkan itu.”
Pesan lainnya sangat tegas: jangan percaya kepada apa pun dan siapa pun selain Yesus Kristus. Pendeta itu juga menyarankan ibu Rani untuk berpuasa dan berdoa, mendoakan suaminya, dan yang paling be-rat—memberikan pengampunan. Meskipun hatinya terluka, demi anak-anak dan demi ketaatan kepada Tuhan, ibu Rani menyanggupi.
Hari-hari berikutnya dilalui dengan puasa dan doa. Hampir seminggu lamanya ia datang kepada Tuhan dengan air mata. Ia berdoa agar kuasa kegelapan yang menguasai hati suaminya dihancurkan. Ia berdoa agar Tuhan memulihkan rumah tangganya. Di tengah kelemahan, ibu Rani mulai merasakan damai yang perlahan kembali memenuhi hatinya.
Pada suatu malam, di tengah kantuknya, ibu Rani mendengar pintu rumah diketuk. Ia bangun dan mem-buka pintu. Dadanya bergetar hebat. Di hadapannya berdiri suaminya, dengan wajah sayu dan mata sem-bab. Tanpa berkata apa-apa, suaminya berlutut dan memeluk kaki ibu Rani. “Bu, maafkan saya,” hanya itu yang diucapkannya.
Kata-kata itu seperti meruntuhkan gunung beban di hati ibu Rani. Semua kepahitan, kemarahan, dan ketakutan yang menumpuk selama ini runtuh seketika. Ia teringat janjinya untuk mengampuni, seperti Kristus telah lebih dulu mengampuninya. Ia memeluk suaminya dan berkata dengan lembut, “Sudah Pak, lupakan yang sudah. Ke depan kita hati-hati. Maafkan aku juga, mungkin aku pun ada salah.”
Malam itu, meskipun di luar gelap, hati ibu Rani terang benderang. Ia menyaksikan sendiri bahwa doa bukanlah sia-sia. Kuasa Tuhan nyata bekerja. Rumah tangga yang hampir runtuh dipulihkan. Hatinya yang hancur dijahit kembali oleh kasih Tuhan.
HANYA DENGAN BERSANDAR KEPADA TUHAN YESUS, SEGALA PENCOBAAN DAPAT DILEWATI DAN DIMENANGKAN. DOA DAN PENGAMPUNAN BUKAN KELEMAHAN, MELAINKAN KEKUATAN YANG SANGGUP MENGALAHKAN KEGELAPAN. (Rani Tanggul- angin - Kediri)
