PERHATIAN ITU BERAKIBAT GEREJA BERKEMBANG
Gereja yang berlokasi di pinggiran Kota Kediri ini bernama Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN) Smirna, dan saat ini digembalakan oleh Pdt. Danik. Sebagian jemaat gereja tersebut dahulu merupakan pendengar setia renungan Pdt. Pudjianto melalui siaran radio. Namun, karena kendala perizinan, beberapa radio yang sela-ma ini menyiarkan renungan tersebut akhirnya harus berhenti mengudara.
Puji Tuhan, Lembaga Pelayanan Iman & Doa (PID) mendapat kesempatan untuk bersekutu bersama jemaat GKIN. Pada kesempatan itu, Pdt. Danik memberikan mimbar kepada Pdt. Pudjianto untuk menyampaikan firman Tuhan. Pertemuan tersebut menjadi saat yang penuh sukacita, karena selama ini sebagian jemaat han-ya mengenal suara Pdt. Pudjianto melalui siaran radio, tetapi kini dapat bertemu dan beribadah bersama secara langsung.
Gereja ini memiliki perjalanan pelayanan yang menarik. Mula-mula pelayanan dirintis oleh Pdt. Daniel Eko Susilo dengan jumlah jemaat hanya empat orang. Walaupun sangat sedikit, pelayanan tetap dilakukan dengan tekun di tengah kesibukan melayani di tempat lain. Ketika kemudian beliau dipanggil melayani ke Kalimantan, pelayanan diteruskan oleh Ev. Marsudi.
Istri Ev. Marsudi, yang sekarang dikenal sebagai Pdt. Danik, sebelumnya bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Tugasnya banyak berhu-bungan dengan wanita-wanita yang terjerat dunia prostitusi. Tidak sedikit di antara mereka menderita HIV/AIDS dan berbagai penyakit lainnya. Di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, Ibu Danik tidak menjauh. Dengan penuh kasih ia merawat mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, memberi semangat, bahkan memperkenalkan kasih Tuhan Yesus.
Perhatian yang tulus itu menjadi kesaksian yang hidup. Mereka yang selama ini merasa ditolak mulai me-rasakan bahwa masih ada orang y ang mengasihi mereka tanpa memandang masa lalu. Sedikit demi sedi-kit mereka membuka hati untuk belajar firman Tuhan dan menyerahkan hidup kepada Yesus Kristus. Ti-dak hanya mereka yang bertobat, para tetangga yang menyaksikan pelayanan kasih tersebut pun mulai tertarik datang beribadah. Dari hanya empat orang, jemaat terus bertumbuh hingga mencapai sekitar delapan puluh orang.
Seiring pertumbuhan jemaat, Tuhan membuka jalan sehingga gereja dapat membeli tanah dan mem-bangun tempat ibadah sendiri. Di tengah sukacita itu, Ev. Marsudi dipanggil Tuhan. Jemaat yang telah merasakan kasih dan perhatian Ibu Danik berharap beliau bersedia melanjutkan penggembalaan. Untuk memenuhi panggilan tersebut, Ibu Danik menempuh pendidikan teologi hingga memenuhi seluruh per-syaratan sinode. Setelah dinyatakan lulus dan diterima oleh jemaat, beliau diteguhkan menjadi pendeta dan melanjutkan pelayanan yang telah dirintis bersama almarhum suaminya.
Dari kisah pelayanan ini kita belajar bahwa pertumbuhan gereja tidak selalu dimulai dari program yang besar atau fasilitas yang lengkap. Sering kali Tuhan memulai pekerjaan-Nya melalui satu hati yang mau peduli kepada orang-orang yang terluka. Orang yang merasa diperhatikan akan lebih mudah membuka hati untuk mendengarkan kabar keselamatan. Kasih yang diwujudkan dalam tindakan menjadi pintu ma-suk bagi Injil.
Seorang gembala memang perlu memiliki kemampuan mengajar firman Tuhan dengan benar. Namun, jemaat juga membutuhkan seorang pemimpin yang mau hadir di tengah pergumulan mereka, menangis bersama yang berduka, menguatkan yang putus asa, dan merangkul mereka yang disisihkan. Ketika fir-man Tuhan disampaikan melalui perkataan sekaligus dibuktikan melalui perhatian yang tulus, Injil men-jadi hidup dan dapat dirasakan oleh banyak orang.
Kiranya pelayanan GKIN menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Tuhan masih bekerja melalui orang-orang yang bersedia mengasihi tanpa membeda-bedakan. Di mana ada perhatian yang lahir dari kasih Kristus, di situ pula benih-benih pertumbuhan akan mulai muncul. Gereja bertumbuh bukan semata-mata karena banyaknya kegiatan, melainkan karena kasih Kristus benar-benar dinyatakan dalam kehidupan pa-ra pelayannya.
